Langsung ke konten utama

Siklus Manajemen Bencana Longsor

Program kerja organisasi kemanusiaan berdasarkan siklus manajemen bencana longsor :


I. Tahap Pencegahan dan Mitigasi
a. Membuat peta rawan bencana longsor dan memetakan masalah yang akan timbul akibat longsor      bila    sewaktu waktu terjadi,

b. Membuat protap atau SOP untuk pencegahan dan pengurangan resiko bencana longsor,

c. Membuat poster/brousure/leaflet yang terkait tentang bencana longsor, membuat dan penempatan        tanda-tanda peringatan, bahaya larangan memasuki daerah rawan bencana longsor,

d. Melakukan Penelitian atau mengkajian karakteristik bencana longsor,

e. Mengkajian atau menganalisis risiko yang disebabkan oleh bencana longsor,

f. Membuat pelatihan dasar tentang bencana longsor bagi aparat dan masyarakat,

g. Relokasi penduduk dari daerah yang rawan bencana longsor ke daerah yang lebih aman dari                 ancaman longsor,

h. Melakukan penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya bencana longsor,

i. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana longsor,

j. Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah, mengamankan dan mengurangi            dampak yang ditimbulkan oleh bencana longsor.



II. Tahap Kesiapsiagaan (Preparedness)
a. Pengaktifan pos-pos siaga bencana disekitar lokasi bencana longsor dengan mengikut sertakan masyarakat setempat,

b. Memberikan Pelatihan siaga bencana atau simulasi bencana longsor bagi voluntir dan warga masyarakat yang beresiko terkena bencana longsor,

c. Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan hal ini bertujuan untuk memudahkan saat fase tanggap darurat bencana longsor,

d. Menyiapkan dukungan dan mobilisasi sumberdaya atau suplay logistik ke lokasi bencana longsor,

e. Menyiapkan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu untuk mendukung tugas dilokasi bencana longsor.

f. Pemasangan dan menyiapkan early warning instrument (sistem peringatan dini)

g. menyusun rencana kontinjensi (contingency plan) digunakan apa bila terjadi bencana diluar dugaan

h. Menggerakkan sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan) untuk persiapan mengurangi       dampak dari bencana longsor



III. Tahap Tanggap Darurat (Emergency Response)
a. Melakukan pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi,kerusakan,kerugian, dan sumber daya      saat informasi tentang bencana longsor diterima dengan akurat,

b. Pembukaan akses lokasi longsor dengan menggunakan alat berat

c. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat yang terkena bencana longsor

d. Memberikan pengobatan massal/ pelayanan kesehatan terpadu di lokasi pengungsian

e. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana longsor yang telah di evakuasi ketitik titik                 pengungsian,

f. Menyediakan akses informasi terkait bencana longsor

g. Memberikan perlindungan terhadap kelompok rentan terhadap dampak dari bencana longsor

h. Melakukan pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital yang rusak akibat dari bencana             longsor.



IV. Tahap Pemulihan ( Recovery )
a. Memperbaiki lingkungan daerah bencana longsor

b. Perbaikan prasarana dan sarana umum yang diakibatkan oleh terjangan bencana longsor

c. Memberikan bantuan perbaikan rumah masyarakat yang rusak akibat bencana longsor

d. pemulihan sosial psikologis korban/masyarakat akibat trauma bencana longsor

e. Memaksimalkan pelayanan kesehatan terhadap korban di lokasi bencana longsor

f. Menata kembali sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang telah berantakan akibat bencana tanah    longsor

g. Menerapkan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan                 terhadap bencana longsor apabila sewaktu waktu terulang kembali

h. Meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang menjadi korban bencana            longsor.



 Program kerja untuk percepatan pembangunan kapasitas kelembagaan daerah berbasiskan komunitas     dengan mengutamakan masyarakat disabilitas :


a. Meningkatkan kesempatan berusaha dan bekerja untuk meningkatkan kualitas hidup dan taraf           kesejahteraan sosial penyandang disabilitas

b. Meningkatkan kepedulian sosial masyarakat, memanfaatkan potensi dan sumber kesejahteraan             sosial dan sumber daya ekonomi untuk pengembangan usaha ekonomi produktif dan membangun         budaya kewirausahaan bagi penyandang disabilitas;

c. Memelihara penghasilan dan kesejahteraan sosial penyandang disabilitas melalui sistem jaminan          sosial;

d. Meningkatkan aksesibilitas fisik penyandang disabilitas terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan,         pelayanan kesejahteraan sosial, dan sumber daya ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup dan       kesejahteraan sosialnya;

e. Meningkatkan aksesibilitas nonfisik penyandang disabilitas dalam setiap pengambilan keputusan         terkait kebijakan publik dan pelayanan sosial sesuai dengan perspektif penyandang disabilitas.


Contoh Program :

Memberikan Pelatihan ( lokakarya ) dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas sesuai dengan skill yang telah dikuasai.Penyandang disabilitas diberikan pelatihan keahlian sesuai dengan disabilitas yang disandangnya.Setelah Penyandang disabilitas tersebut menguasai / atau mempunyai keahlian tertentu maka dia akan dipekerjakan dan memiliki kesempatan dan hak yang sama dengan manusia normal lainnya, hal ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup penyandang disabilitas juga untuk mempercepat pembangunan dan memberantas kemiskinan diikuti dengan pengurangan angka pengangguran. Program pembrian alat bantu sesuai dengan disabilitas yang dialami. Pelatihan yang diberikan antara lain pelatihan penggunaan computer suara bagi penyandang netra, pelatihan menjahit memberikan mesin jahit dan dana untuk pembekalan.dll

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Identifikasi Risiko padaTindakan Gadar di UGD

TINDAKAN GAWAT DARURAT PADA KORBAN TABRAKAN BERUNTUN DI UGD RSUD PIDIE JAYA 1 . Risiko apa yang ada dan     siapa yang menanggung risiko :       A    Risiko yang ada pada tindakan gawat darurat di UGD Ø   Risiko Bagi korban / pasien ·         Pada tindakan dalam keadaan  gawat darurat dapat menyebabkan cedera bahkan kematian. Ø   Risiko bagi Tenaga Medis ·         Tertularnya penyakit menular, Seperti TB Paru, Hepatitis, dan lainnya ·         Tertusuk benda tajam, seperti abocet, jarum suntik, nald hacting, dll ·         kekerasan fisik oleh keluarga pasien karena emosi ·         Ancaman hukum pidana  B.  Risiko ditanggung oleh Ø   Tenaga Medis yang memberikan tindakan Ø   Pihak management Rumah sakit Ø   Korban ata...

Never a truce, destroy Israel

  Gencatan Senjata.. ?  Setelah ribuan Rakyat Palestina dibantai KAU hanya menawarkan gencatan sejata Tidak jauh beda ENGKAU dengan As-Sisi Ngakunya ENGKAU seorang Muslim  Memimpin Ummat Muslim terbesar di Dunia  Tidakkah KAU malu pada Chili, Bolivia dan lainnya Mereka lantang bersuara menentang kebiadaban Israel Mereka membaikot Produk Israel Meneriakkan "Israel real Terorrist in the world" KAU berkilah tidak melihat perang Gaza dari sudut Agama namun semata hanya atas nama kemanusiaan Lihatlah PM Turki  Recep Tayyip Erdogan & Parlemennya   Mereka pasang badan membela Kaum Muslimin Palestine Tiliklah PM Negeri jiran MU dengan tegas berkata Israel sebagai Pengganas Israel penjahat perang, seret PM    Benjamin Netanyahu    ke mahkamah HAM Internasional AKU malu.... AKU malu..... AKU tak sudi mengakui KAU sebagai pemimpin negeri berpenduduk Muslim terbesar Dunia KU katakan KAU bukan Pem...

Rakyat Aceh: Jangan Bantai Rohingya, Mereka Saudara Kami

Tiga sosok pembunuh berdarah dingin yang paling bertanggung jawab atas pembantaian  Muslim Rohingya di Myanmar (Burma). Tiga Iblis berwujud manusia ini membumihanguskan, membombordir membatai Saudara Muslim Arakan Rohingya. Aksi diplomatis negara di belahan bumi tak mereka hiraukan, teriakan demonstran mereka anggap suara bayi menangis, rintihan kesakitan dan air mata para wanita dan anak-anak tidak berdosa tak membuat mereka menghentikan kekejaman.  Sami Buddhist di back up junta militer dengan beringas membantai penduduk sipil wanita tak berdaya bahkan bayi yang belum mampu merangkak.  Mereka menggap Muslim adalah teroris, padahal sejatinya merekalah yang TERRORIST. Muslim ibarat lebah bila satu terusik maka satu sarang akan bereaksi. Junta Militer dan Sami Buddhist Myanmar telah membangunkan Singa yang sejatinya Cinta Damai.  Secara geografis Palestina (Gaza) memang jauh dengan Aceh / Indonesia untuk dijadikan medan jihad. Namun di seberang laut Saudara Kita Rohin...